tak perlu jadi yg pertama untuk jadi yg terbaik
— (via mittahut)
Reblogged from Memory's Capture
Ketika dapat masalah, seseorang yg dewasa akan mencari jalan bijak untuk menyelesaikan masalahnya bukan dengan jalan memuaskan emosinya
— Mama (via mittahut)
Reblogged from Memory's Capture

deritaloeh:

Teringat waktu itu saat pertama …. “7taun lagi” dan dimulai ditanggal 17. Dari yang awalnya hanya mimpi dan bercandaan tapi sekarang jadi kenyataan. Kenyataan yang harus dihadapi bersama dengan sikap dewasa. :’)

[Flash 9 is required to listen to audio.]

putrirs:

Tulus - Teman Hidup

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja

Reblogged from reit
quatroscience13:

IPA 4 SMUNDA 2012 & 2013 | @perempatan12 @_SEGIEMPAT

quatroscience13:

IPA 4 SMUNDA 2012 & 2013 | @perempatan12 @_SEGIEMPAT

Reblogged from QuatroScience 2013
Ga semua yang dirasain bisa diungkapkan dengan kata kata~
— (via reitwi)
Reblogged from reit
Gue percaya kesederhanaan itu adalah kemewahan sejati di mata Tuhan, semakin sedikit yang kita punya semakin kita bisa menghargainya
— shitlicious (via abcdewinfgh)
Reblogged from A

artchipel:

Tumblr Artist

Mat Miller | mat1t (b.1985, UK) - Streaming Eyes / Fluidity

Ginger, peaceful (and odd!), Mat Miller is a UK based young artist. Bold, ethereal, offbeat, Mat’s artwork rarely carries any deep personal feelings or expressions. “Maybe on a subconscious level there is hidden feelings but none that I’m aware of. I only wish to make art that other people will appreciate. If my work sparks feelings within other people then that is brilliant but to be honest I think far too many artists are caught up in themselves and that’s just not my cup of tea.” Mat likes to get out with his camera to gather ideas and reference shots. As well as the beautiful outdoors he gains inspiration from the more bizarre world of humans! “Walking around antiques shops is always fun. It’s like a sensory overload sometimes. From the art and design world, I’m influenced by lots of contemporary street art as well as the lowbrow art and illustration movement that is so popular right now. My favourite artist is Camille Rose Garcia.” You can visit Mat’s Tumblr, Facebook and shop for more work and news. (Interview with artist by ARTchipel Apr-2012)

[more Mat Miller]

Reblogged from Memory's Capture
Membiasakan ada orang baru itu lebih gampang dibanding membiasakan perginya orang itu…
— (via deritaloeh)

mirdsmulya:

4601 Genk

Reblogged from Trequartista

hannaharsy:

Ah, terserah kamu aja, aku taunya aku sayang sama kamu, kok.

Reblogged from That's All~

abcdewinfgh:

story of peter - sarasvati

Reblogged from A
natiqoh:

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

natiqoh:

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”. 

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

Reblogged from Kleinigkeiten